Assalamu'alaikum Welcome to my Blog

Kamis, 02 Mei 2013

Bayan Mufhti Luthfi


Minggu, 04 November 2012

73. BAYAN MUFTI MUHAMMAD LUTHFI AL BANJARI 1

http://2.bp.blogspot.com/-4nqMU8FgpVc/T1EFsBfXtKI/AAAAAAAAAnU/V3PX30z6p3k/s1600/wallpaper+pemandangan.jpg


Saat ini orang berusaha mencari hasil bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “manusia itu barang tambang sebagaimana barang tambang emas dan perak.” Berbagai macam alat digunakan untuk menggali sumber daya alam. Dalam diri manusia juga ada potensi yang mahal. Jangan dikira dalam diri seorang preman atau orang-orang yang dianggap hina dalam masyarakat ternyata ada sesuatu yang sangat berharga. Satu-satunya cara untuk menggali kemuliaan manusia adalah dengan usaha dakwah.
Begitu rahimnya/kasih sayangnya Allah subhanahu wa ta’ala kepada ummat ini maka usaha dakwah diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya. Jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengajak manusia untuk mengabdi kepada Allah dengan ‘bashirah’ (pandangan hati) dan ini adalah kerja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. [1]
Hasil pertama yang didapat jika seseorang yang berdakwah adalah dirinya dibersihkan dari kemusyrikan. Janganlah seseorang berkoar bahwa dirinya dengan belajar tauhid bertahun-tahun lalu bebas dari kemusyrikan, sekali-kali tidak jika orang tersebut belum berdakwah. Jangankan manusia biasa. Nabi Musa ‘alaihis salam belajar di tempat yang suci dan diajari langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai tauhid, tapi Nabi Musa ‘alaihis salam belum terbebas dari kemusyrikan.
Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam ditanya, apa yang ada ditangan kananmu hai Musa? Ini tongkat saya dan banyak kegunaannya. Dan Nabi Musa ‘alaihis salam gagal dalam ujian pertama walaupun baru belajar tauhid. Ujian kedua, Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam untuk membuang tongkatnya yang dia sangat cintai lalu tongkatpun berubah menjadi ular. Ujian ketiga, ketika tongkat telah berubah menjadi ular, Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan untuk mengambil ular tersebut. Tauhid tidak cukup dalam pengetahuan tauhid saja namun harus dibuktikan dengan perbuatan. [2]
Allah subhanahu wa ta’ala akan memperbaiki keimanan Nabi Musa ‘alaihis salam dengan menghantarkan Nabi Musa ‘alaihis salam ke medan dakwah. Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam untuk berdakwah kepada Fir’aun. Setelah itu Nabi Musa ‘alaihis salam beberapa lama digembleng dalam dakwah. [3]
Saat Nabi Musa ‘alaihis salam dikejar-kejar Fir’aun dan bala tentaranya, di depan mereka ada lautan dan dibelakang mereka ada Fir’aun dan bala tentaranya. Pengikut beliau yang nota benenya hanya beribadah namun tidak berdakwah, ketika menghadapi situasi ini mereka mengatakan, “wahai Musa celaka kita??” Pengikutnya yang selama 40 tahun belajar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Mursyidnya adalah seorang Nabi ‘alaihis salam namun keimanan mereka sangat lemah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pengikutnya masih takut kepada makhluk. [4]
Kalau seorang yang sudah tidak lagi dimedan dakwah, walau pun sekarang dia memakai sorban dan memelihara jenggot, namun nanti ketika akan ada cobaan bahwa yang demikian adalah teroris maka mereka akan melepas soban dan mencukur jenggot-jenggot mereka. Jika sekarang seorang wanita memakai purdah namun dia tidak lagi di medan dakwah lama-kelamaan purdah akan dia lepas. Seorang anak kecil di Prancis yang hidup dalam medan dakwah di rumahnya. Di sekolahnya gurunya membujuk untuk melepas jilbabnya, namun dia tidak mau melepas jilbabnya. Lalu gurunya bertanya lagi keanak tersebut, bagaimana caranya agar kamu mau melepas jilbab. Anak itu berkata, “ibu ambil pedang dan tebas leher saya hanya dengan cara yang demikian jilbab saya bisa terlepas.”
Sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam mengatakan ‘inna ma’iya Rabby sayahdiin’ –sesungguhnya bersama saya Rabb saya dan dia akan memberi petunjuk-. Pada saat tersebut Nabi Musa ‘alaihis salam mampu melupakan tongkatnya yang bermanfaat ketika memakan ular-ular penyihir Fir’aun. Mampukah karkun (seorang dai atau pekerja dakwah) untuk menafikan sesuatu yang ada pada dirinya dan hanya bergantung hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Para pekerja dakwah hendaknya jangan menggantungkan dakwah dengan kebendaan. Jika kita diuji dengan dua pilihan antara jadwal jaulah dengan bisnis yang menghasilkan $1.500 yang cukup untuk keluar ke India, Pakistan dan Banglades. Kalau dia pilih bisnisnya dan meninggalkan jaulahnya, dengan berkeyakinan dengan uang itu dia bisa ke IPB itu bagaikan orang yang membeli alas kaki untuk berjalan tapi memotong kedua kakinya. (Maulana Yunus). Dia mengasaskan dakwah dengan ‘bashar’ bukan dengan ‘bashirah’.
Seorang ulama di Indonesia yang selesai belajar di Madinah dan ikut dakwah. Lalu diteror oleh teman-temannya. “Wahai ustadz kenapa kamu ikut orang-orang musyrik dan penuh dengan kebid’ahan.” Ulama tersebut menjawab memang ada hal-hal tersebut dalam diri mereka namun saya yakin dengan janji Allah, orang-orang yang berjihad dijalan kami, pasti kami akan tunjukan jalan-jalan hidayah. [5]
Memang ketika baru memulai dakwah, kesyirikan masih ada dalam diri-diri orang yang berjalan di jalan dakwah, namun selama mereka menjadikan dakwah sebagai jalan hidup mereka sedikit-sedikit Allah akan membersihkan memusyrikan dari diri mereka.
Dalam dakwah tidak boleh berpecah belah. Dalam taklim boleh berbeda-beda. Silakan anda belajar ke Madinah, Mesir, Lirboyo, Temboro, Magelang, ke Banten silakan. Perbedaan dalam hukum fiqih adalah rahmat. Ada ucapan seorang yang mengatakan sesuatu yang membuat saya tercengang ketika mendengarnya dan mungkin anda akan tercengang pula, yaitu : “jika ada seorang Alim yang menginginkan mengumpulkan ummat semua dalan satu madzhab itu tidak akan terjadi dan Allah tidak akan Ridha. Allah ingin sunnah Nabi Muhammad tetap terjaga hingga hari Kiamat. Nabi pernah shalat subuh dengan qunut dan tanpa qunut. Jika ummat ini hanya dikumpulkan dalam madzhab yang tidak menggunakan qunut, maka sunah Nabi shalat subuh dengan qunut akan hilang.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Mina dan di Makkah waktu haji di qasar menjadi dua rakaat, demikian juga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu. Lalu ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu menjadi Amirul Hajj beliau shalat empat rakaat, lalu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengkritik Utsman radhiyallahu ‘anhu dengan memberitahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan Umar radhiyallahu ‘anhu telah shalat qasar dua rakaat. Namun Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tetap shalat berjamaah dengan Utsman radhiyallahu ‘anhu sebanyak empat rakaat di depan murid-muridnya. Setelah selesai shalat murid-muridnya bertanya, “wahai guru kenapa kamu mengkritik Utsman radhiyallahu ‘anhu namun engkau ikut shalat empat rakaat.” ‘alkhilafu ‘asyad’ perpecahan itu lebih berat lagi. [6] Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda untuk mengikuti sunnah Nabi dan sunnahnya 4 khulafaur rasyidin al mahdiyyin. Mengikuti Utsman radhiyallahu ‘anhu juga termasuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jangan mencoba-coba menghina SHAHABAT Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam Malik rahmatullah ‘alaih berfatwa orang yang menghina dan membenci shahabat adalah KAFIR. Jangan bersahabat dengan mereka, jangan terkesan dengan buku-buku mereka yang menghina shahabat. [7]
Seorang bertanya kepada Abdullah bin Mubarak rahmatullah ‘alaih, mana yang lebih mulia antara Umar bin Abdul Aziz rahmatullah ‘alaih dengan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. Dijawab, debu-debu yang menempel dihidung keledai Muawiyah radhiyallahu ‘anhu ketika berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa dibandingkan dengan amalan Umar bin Abdul Aziz rahmatullah ‘alaih.
Tabiin tidak bisa menyamai shahabat. Shahabat tidak bisa menyamai Nabi. Walaupun ada seorang tabiin yaitu, Uwaisy Alqarni rahmatullah ‘alaih yang memerintahkan Umar radhiyallahu ‘anhu untuk meminta doa kepadanya jika bertemu. Namun kemuliaan Uwaisy rahmatullah ‘alaih tidak bisa menyamai kemuliaan shahabat.
Begitu juga kita tidak boleh menghina Alqamah rahmatullah ‘alaih yang terhalang mengucapkan Laailaha illallaah karena ibunya tersinggung dengan perbuatannya. Karena kemuliaan Alqamah tidak bisa dibandingkan dengan tabiin dan seterusnya.
Syaikh Ilyas rahmatullah ‘alaih ditanya orang. Kerja yang kamu buat sekarang ini banyak melalaikan hak makhluk, bagaimana ini? Dijawab, betul. Saya akui kerja yang saya galakan sekarang ini banyak mengurangi hak makhluk, tapi dengan seorang mengambil usaha ini dengan sebab usahanya banyak orang-orang yang dahulunya melalaikan hak makhluk setelah mendapat hidayah dia menjadi orang-orang yang menunaikan hak makhluk.
Semua kelalaian yang dilakukan dai dalam menjalankan usaha dakwah semuanya akan dibayar oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Orangtua di akhirat menuntut anaknya yang dai karena waktunya kurang dalam berbakti kepada kedua orangtuanya disebabkan usaha dakwah yang ia perjuangkan. Allah akan menawarkan kepada orangtua tersebut maukah kalian memaafkan anakmu dan akan aku masukkan kalian berdua ke dalam surga?
Jangan berpecah belah dalam dakwah.
Taklim dibuat untuk menopang dakwah.
Ibadah dibuat untuk menopang dakwah.
Dzikir dibuat untuk menopang dakwah.
Khidmat dibuat untuk menopang dakwah.
Sekarang ini banyak orang yang ibadah dan banyak orang yang tahajud. SBY (Presiden Indonesia 2010-2015) tahajud, Amin Rais tahajud, Hamzah Haz tahajud, petani tahajud, karyawan tahajud, namun ibadah yang benar adalah ibadah –tahajud- untuk persiapan dakwah. Jangan tahajud untuk uang, bisnis lancar, ingin jadi presiden, dan lain-lain.
Keanehan dunia jika karkun/pekerja dakwah tidak tahajud, keanehan berikutnya jika karkun masbuk/terlambat shalat berjamaah, dan parahnya lagi jika karkun masih merokok/ melaksanakan perbuatan yang sia-sia. Malaikat tidak akan datang kepada orang yang tahajud yang mulutnya berbau rokok.
Catatan kaki :
[1].
 قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan “bashirah” (hujjah yang nyata), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf : 108)    
                                                             
[2]. QS. Taha : 18-21
قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ
Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".
قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ
“Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!"
فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ
“Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.”
قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ
Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”
[3]. QS. Taha : 24
اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
“Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas".
[4]. QS. Shuara : 60-67
فَأَتْبَعُوهُم مُّشْرِقِينَ
“Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.”
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul".
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".



فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ


Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain .



وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ
Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain .
وَأَنجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ أَجْمَعِينَ
Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.
ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ
Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.
إِنَّ فِي ذَ‌ٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mu'jizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.

Kisah Nabi Musa Diselamatkan dan Fir’aun Ditenggelamkan

 وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al Baqarah : 50)
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)". (QS. Thaha : 77)



فَأَتْبَعُوهُم مُّشْرِقِينَ
“Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.” (QS. As-Shuara : 60)
لَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul".  (QS. As-Shuara : 61)
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".  (QS. As-Shuara : 62)
Setelah Nabi Musa ‘alaihis salam memukul tongkatnya ke laut, tiba-tiba terjadi satu perkara yang sangat luar biasa. Lautan membelah dan diciptakan 12 lorong setiap kabilah bagi Bani Israil untuk menyeberang ke sebelah lautan. Tiap-tiap kabilah memiliki jalannya sendiri. Nabi Musa ‘alaihis salam dan seluruh pengikutnya segera menyeberang.
Setelah seluruh Bani Israil menyeberang, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Malaikat Jibril ‘alaihis salam yang berupa sebagai seorang penunggang seekor kuda betina, mendekati kuda Fir’aun, seekor kuda jantan. Kuda jantan Fir’aun itu birahi melihat kuda betina Malaikat Jibril. Lalu Malaikat Jibril ‘alaihis salam memacu kudanya masuk ke laut yang sedang terbelah dan kuda jantan Fir’aun pun ikut masuk. Tentara Fir’aun yang melihat kejadian tersebut terus  mengikuti Fir’aun. Apabila mereka semua sudah masuk ke dalam lorong, Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam memukul kembali tongkatnya ke laut dan laut itu pun cair kembali dan menutup semua lorong-lorong serta menenggelamkan Fir’aun dan seluruh tentaranya.
Setelah Fir’aun ditenggelamkan dan berenang untuk menyelamatkan diri, Malaikat Jibril ‘alaihis salam bertanya kepada Fir’aun “Apa pendapat kamu tentang seorang yang telah dibela sejak kecil lalu apabila dewasa dia menentang orang yang membelanya?” Fir’aun mengatakan bahwa orang itu adalah orang yang jahat. Dia menyangka bahwa orang yang dimaksudkan itu adalah Nabi Musa ‘alaihis salam karena Fir’aun telah membela Nabi Musa ‘alaihis salam sejak kecil. Lalu malaikat Jibril ‘alaihis salam menjelaskan “orang itu adalah kamu, kamu dipelihara Allah sejak kecil, tetapi akhirnya kamu menentang Allah.”
Setelah itu Fir’aun bertaubat dan menyatakan keimanannya, namun semuanya telah terlambat karena waktu taubatnya telah “expired”, yaitu nyawa sudah ditenggorokan.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Yunus : 90)
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus : 91)
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92) 
[5]. QS. Al Ankabut : 69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
[6].
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata:
صَحِبتُ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -  فَكَانَ لا يَزِيدُ في السَّفَرِ عَلَى رَكعَتَينِ وَأَبَا بَكرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانَ كَذَلِكَ
“Saya bersahabat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (sebegitu lama), akan tetapi dalam safar beliau tidak pernah shalat lebih dari 2 rakaat. Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (HR. Al-Bukhari no. 1102)
Maka ini menunjukkan bahwa pendapat dan amalan ketiga khalifah pertama adalah mengqashar shalat saat safar. Adapun amalan Utsman radhiallahu anhu yang shalat itmam di Mina saat musim haji, maka amalan ini (itmam shalat) hanya beliau lakukan di Mina dan beliau melakukan di akhir-akhir kekhalifaan beliau. Ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu Umar dimana beliau berkata:
صَلَّيتُ مَعَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم -  بِمِنًى رَكعَتَينِ وَأبي بَكرٍ وَعُمَرَ وَمَعَ عُثمَانَ صَدرًا مِن إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا
“Saya shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam di Mina 2 rakaat, demikian pula dengan Abu Bakar, Umar dan juga bersama Utsman di awal kepemimpinannya, kemudian di akhir kepemimpinannya dia pun melakukan itmam.” (HR. Al-Bukhari 1082, 1657 dan Muslim no. 694)
[7].
Cinta para sahabat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik itu ahlul bait maupun bukan merupakan tanda keimanan seseorang, dan membenci mereka adalah tanda nifaq. Al-Imam Al-Bukhary -rahimahullah- berkata dalam kitab Shahih-nya (1/14/17),“Bab Tanda Keimanan Adalah Cinta Kepada Orang-Orang Anshar”. Setelah itu Al-Bukhary membawakan sebuah hadits dari Anas -radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ بُغْضُ اْلأَنْصَارِ وَآيَةُ الْمُؤْمِنِ حُبُّ اْلأَنْصَارِ
“Tanda kemunafiqan itu adalah membenci orang-orang Anshar dan tanda keimanan itu adalah mencintai orang-orang Anshar”.
Imam As-Suyuthiy -rahimahullah- berkata dalam Ad-Dibaj (1/92) ketika menafsirkan hadits di atas, “Tanda-tanda orang beriman adalah mencintai orang-orang Anshar karena siapa saja yang mengerti martabat mereka dan apa yang mereka persembahkan berupa pertolongan terhadap agama Islam, jerih-payah mereka memenangkannya, menampung para sahabat (muhajirin,pen), cinta mereka kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, pengorbanan jiwa dan harta mereka di depan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, permusuhan mereka terhadap semua orang (kafir) karena mengutamakan Islam dan mencintainya, maka semua itu merupakan tanda kebenaran imannya, dan jujurnya dia dalam berislam. Barangsiapa yang membenci mereka dibalik semua pengorbanan itu, maka itu merupakan tanda rusak dan busuknya niat orang ini”.
Dalam sebuah hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam menerangkan martabat para sahabat,
لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ
“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Andaikan seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaq itu tak mampu mencapai satu mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya” . [HR.Al-Bukhary dalam Ash-Shahih (3470), Muslim dalam Ash-Shahih (2541) dan lainnya].
Dari dua hadits ini dan hadits lainnya yang semakna, Ahlus Sunnah menetapkan suatu aqidah: “Wajibnya mencintai para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan tidak mencela mereka, bahkan memuliakan mereka serta membersihkan hati dan lisan dari membicarakan permasalahan di antara para sahabat, mencela, merendahkan dan menghina para sahabat”. Sebab merekalah yang memperjuangkan Islam dan menyebarkannya dengan mengorbankan harta dan jiwa mereka sampai kita juga bisa merasakan nikmat Islam.
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawy-rahimahullah- berkata dalam menjelaskan aqidah Ahlussunnah, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka,dan tidak berlepas diri dari salah seorang di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan menyebutnya bukan dalam kebaikan. Kita tidak menyebut para sahabat kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, keimanan,dan kebaikan. Sedang membenci mereka merupakan kekufuran, kemunafikan, dan pelampauan batas”. [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah, hal. 689 karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafy.]
Al-Imam Abu Hanifah -rahimahullah- berkata, “Al-Jama’ah: Engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman, dan engkau tidak mencela salah seorang diantara sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- “. [Lihat Al-Intiqo’ fi fadho’il Ats-Tsalatsah Al-A’immah, hal. 163 karya Ibnu Abdil Barr, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]
Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas-rahimahullah- berkata, “Orang yang mencela para sahabat Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak memiliki saham-atau ia berkata:- bagian dalam Islam”. [Lihat As-Sunnah (1/493) karya Al-Khollal]
Al-Imam Al-Humaidy -rahimahullah- berkata, “Kita tidaklah diperintah kecuali untuk memohonkan ampunan bagi mereka (sahabat). Barangsiapa yang mencela mereka atau meremehkan mereka atau salah seorang dari mereka, maka ia bukanlah di atas sunnah, dan ia tidak memiliki bagian dari fa’i (rampasan perang)”. [Lihat Ushul As-Sunnah, hal.43 karya Al-Humaidy]
Al-Imam Ahmad bin Hambal - rahimahullah- berkata, “Barangsiapa mencela (sahabat), maka aku takutkan kekufuran atas dirinya, seperti orang-orang Rafidhoh.” Lalu beliau berkata lagi, “Barangsiapa yang mencela para sahabat Rasulullah–shallallahu alaihi wasallam- , maka kami tak merasa aman atas dirinya kalau ia akan keluar dari agama”. [Lihat As-Sunnah (1/439) karya Al-Khollal]